Kisah Unik Sipir Guantanamo Yang Menemukan Islam

Teluk Guantanamo selama ini dikenal sebagai penjara khusus bagi pelaku kejahatan teroris maupun yang hanya ‘tertuduh’ milik militer AS. Namun, siapa sangka di balik kawat berduri dan sel-sel yang dingin, Terry Holdbrooks, salah seorang penjaga justru menemukan Islam.

 Kisah ini menjadi menarik bukan semata sebagai cerita mualaf (orang yang memeluk Islam) biasa. Melainkan sebagai perubah persepsi dan membuka mata, bahwa tak selamanya tertuduh yang dibuang ke Guantanamo adalah kaum radikal dan teroris. Tak heran, makin banyak suara kritis dari berbagai negara terhadap tindakan represif militer AS kepada orang-orang yang mereka sangka teroris.

 

Sebagai seorang penjaga penjara, Terry Holdbrooks punya kebiasaan unik setiap malam. Saat teman-temannya yang bebas tugas pergi ke bar setempat dan bermabuk-mabukan, ia justru berbincang dengan narapidana tentang Islam.

“Kami tak tahu apa pun tentang Islam. Kami hanya diperlihatkan video peristiwa 11 September (bom gedung WTC, New York, AS). Kita diberitahu bahwa para tahanan ini merupakan yang paling buruk dari yang terburuk. Mereka adalah sopir (Osama) Bin Laden, koki Bin Laden, dan orang-orang yang akan membunuh Anda saat pertama kali bertemu,” ujar Terry berkisah tentang perjalanannya menuju hidayah kepada banyak media, baik Guardian, NewsWeek Magz, France TV, dan lain sebagainya.

Namun, persepsi sempit tentang Islam itu ternyata tak semuanya benar. Terry mendapati beberapa tahanan yang justru amat baik. Mereka sangat ramah dan murah senyum.

Semakin lama, Terry yang juga dikenal sebagai penjaga baik hati itu pun berhubungan baik dengan para napi. Setiap malam dia duduk-duduk dengan para napi. Berawal obrolan biasa, kemudian mengarah pada agama. Inilah kali pertama Terry mengenal Islam.

“Aku mulai ngobrol dengan para tahanan tentang politik, etika, moral, juga tentang kehidupan dan budaya mereka. Ini benar-benar mengejutkan bagiku karena sebelumnya aku sama sekali tak mengenal Islam,” ujarnya.

Terdapat seorang napi yang sangat dekat dengannya, yakni seorang warga Maroko bernama Ahmed Errachidi. Di penjara Ahmed dijuluki dengan “jenderal”. Setiap malam, Terry mengobrol dengan “jenderal” itu. Tak ada teman-temannya yang mengetahui karena saat itu mereka tengah bermabuk ria. Semakin hari, ia pun semakin jatuh cinta pada agama rahmatan lil alamin ini. “Aku ingin belajar sebanyak yang aku bisa,” ujarnya berbinar.

Setelah belajar mengenai Islam dan obrolan panjang tiap malam, Terry memutuskan untuk memeluk Islam. Ia meminta Ahmed menulis syahadat di sebuah kertas, transliterasi dan terjemahnya dalam bahasa Inggris. Ia pun dengan mantap membacanya dengan lantang di lantai Guantanamo Camp Delta. Di sanalah, ia kemudian menjadi Muslim.

Ijin Pipis Untuk Shalat

Terry yang sudah menjadi seorang Muslim itu pun selalu berusaha tak luput shalat. Acap kali waktu shalat tiba, Terry berpura-pura izin ke kamar mandi. Namun, sebenarnya ia menunaikan ibadah shalat.

 

 “Tidak mudah menunaikan shalat lima kali sehari tanpa rekan-rekanku tahu. Aku pun mengatakan kepada mereka bahwa aku butuh sering ke kamar mandi,” katanya sambil tertawa mengingat masa lalu.

Ya, peristiwa di tahun 2004 itu menjadi kenangan tersendiri bagi Terry yang kini mengubah namanya menjadi Mustafa Abdullah dan meninggalkan Guantanamo karena tak tahan melihat perlakuan di sana.

Siapa sangka, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tak karuan, kedua orang tuanya pemabuk berat yang kemudian bercerai sejak ia kecil, lalu di usia 19 tahun, ia hidup dikelilingi alkohol, seks bebas, musik hard rock, tato, dan lain sebagainya, kini berubah 180 derajat setelah menemukan keyakinan yang diimaninya.