Telinga Buatan Pertama Dibuat dengan Printer 3D

telinga-buatan

Ada harapan baru bagi anak-anak yang lahir dengan microtia (kelainan bawaan pada daun telinga) atau yang kehilangan sebagian telinganya karena trauma, kecelakaan, atau kanker. Ilmuwan kini berhasil membuat telinga baru dengan printer.

Perekayasa biologis dan fisikawan dari Weill Cornell College berhasil mengembangkan daun telinga buatan menggunakan metode cetak 3-D dengan penyuntikan gel ke dalam cetakan. Hasil cetakan punya karakteristik sama dengan telinga asli.

Dr. Jason Spector, direktur laboratorium Bioregenerative Medicine and Surgery dan professor bidang operasi plastik di Weill Cornell Medical College, mengatakan, telinga buatan ini adalah pilihan terbaik. Penderita tak perlu merasakan sakit berkepanjangan atau efek pasca impantasi.

Saat ini ada dua pilihan metode rekonstruksi daun telinga yang berkembang. Metode pertama, rekonstruksi dilakukan dengan menempelkan telinga buatan yang terbuat dari bahan menyerupai styrofoam.

“Sebuah masalah besar dengan implan jenis ini, ia betul-betul terekstrusi ke kedalam kulit setelah ditempelkan. Itu bisa sangat membahayakan dan menyakitkan,” kata Dr. Lawrence Bonnasar, seorang professor bidang rekayasa biomedis di Cornell yang juga terlibat riset.

Sedangkan metode kedua, daun telinga dibuat dengan mengabil tulang rawan dari rusuk pasien. Bahan itu kemudian dipahat menyerupai bentuk telinga. Dengan metode ini, Spector mengatakan, pasien akan mengalami dua kali operasi yang panjang dan menyakitkan.

Temuan Spector dan Bonnasar ini memberikan inovasi baru bila dibandingkan dua pilihan perawatan yang berkembang sebelumnya. Proses pembuatan daun telinga buatan pada metode ini menggunakan bahan gel yang dapat menjadi dasar sehingga tulang rawan dapat tetap tumbuh.

“Kolagen hidrogel spesial yang digunakan memungkinkan sel tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang dan tumbuh di atas matriks tulang rawan,” kata Spector sebagaimana dikutipDiscovery.com, kemarin (20/02/2013).

Keunggulan lainnya adalah proses pembuatan yang cepat. Bonnasar mengatakan hanya butuh waktu setengah hari untuk mendesain cetakan, satu hari untuk mencetak, dan setengah jam untuk menyuntikkan gel-hidro. Lima belas menit kemudian, telinga artifisial dapat dilepaskan dari cetakannya.

Hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah memberikan nutrisi kepada kultur sel selama beberapa hari sebelum ditempelkan. Waktu terbaik untuk menempelkan telinga hasil biorekayasa adalah pada anak-aak usia 5 atau 6 tahun, ketika ukuran kepala dan telinga mendekati 80 persen ukuran dewasa.

Sebelum prosedur ini diujicobakan pada manusia, perlu dilakukan labih banyak pengujian. “Kami optimis, hanya butuh empat atau lima tahun sebelum kita bisa melihat metode ini digunakan secara luas,” ujar Bonassar.

source

kompas.com